Ganyang Malaysia!

27 November 2010 | 12:49 am | dibaca 3,848 kali kali

“Sanaan ‘cup, males gue papasan ama mereka,” ujar Olivia Hidayat kawan saya saat tak jauh dari kami terdengar empat orang berbicara bahasa Melayu. Hari itu 5 tahun lalu di Greenwich, tempat dimana bangsa Inggris menentukan patokan dasar waktu bagi dunia, kami berdua baru menuruni tempat dimana letak matahari menembakkan dan menentukan gerakan waktu pada bayangan di tanah.

View Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta. (Foto: Ongisnade/Adi Kusumajaya)

Di sudut tenggara kota London atau penjuru Inggris lainnya, jumlah warga Malaysia memang selalu lebih banyak daripada warga Indonesia, jadi saya tak heran jika harus berjumpa dengan mereka disitu. “Mereka kan gak suka sama kita,” ujar Ollie lagi menjelaskan alasannya pada saya.

Tentu kawan saya ini tidak sendiri, saya pun demikian tadinya sampai setahun sebelumnya di 2004 sengaja transit di Kuala Lumpur lebih lama untuk mengenal kota itu. Saya selalu merasa akan mendapatkan ketidak ramahan hanya karena saya datang dari Indonesia, negara yang banyak warganya bekerja secara illegal di negeri itu.

Sebelum mendarat disana, saya selalu diingatkan untuk selalu berbicara bahasa Inggris disana agar mereka menghargai kita “Biar mereka tau kalo kita pinter-pinter juga,” jelas salah seorang teman saya.

Nyatanya, tanpa perlu melihat film saya yang baru saya pamerkan di Regensburg Film Festival di November 2004 itu, saya mendapat jamuan yang menyenangkan dari mereka. Saya tak perlu repot berbicara Inggris atau bahkan bahasa Melayu, karena mereka justru sibuk berbicara bahasa yang diturunkan oleh bangsa kita pada saya.

“Bahasa Indonesia telah menaikkan derajat bahasa Melayu,” ujar almarhum Yasmin Ahmad, filmmaker terkemuka di Malaysia sesaat setelah ia mempertontonkan ‘Sepet’ karya terbarunya saat itu pada saya dan beberapa kalangan terbatas.

“Saya selalu mengagumi orang Jawa karena tutur katanya yang selalu menarik,” ujarnya lagi dengan bahasa Melayu yang selalu ia upayakan untuk terdengar menjadi Indonesia.

“Bagi saya justru bahasa Melayu lah yang telah menjadikan bahasa kami bisa sebaik ini,” balas saya padanya. Karena bagi saya, kesederhanaan bahasa Melayu telah membuat begitu mudahnya kita untuk berbicara.

Bahasa yang egaliter, tanpa grammar serta berkosakata sedikit “Jika kami banyak menyerap bahasa Belanda ke kosakata kami, kalian banyak menyerap bahasa Inggris,” sembari saya beri contoh kesamaan arti ‘handuk’ dari ‘handoek’ dengan ‘tuwala’ dari ‘towel’.

Kita telah mengambil dan menyerap bahasa Melayu dengan sempurna. Memadukannya dengan segala unsur kedaerahan yang kita punya, segala serapan baru yang datang dari luar sekaligus menciptakan sebuah bahasa baru bernama bahasa Indonesia. Tapi ironisnya, kita masih terus “berupaya” membenci mereka.

Kita marah pada mereka saat ribuan pekerja illegal Indonesia ditangkapi dan mendapatkan perlakuan tak sopan dari aparat negeri mereka, hal yang sebenarnya juga di negara kita oleh aparat pada bangsanya sendiri.

Kita juga serempak memaki mereka saat seorang selebriti yang bodinya semakin gemuk padahal konon disiksa itu terus saja meracau di media massa.

Seluruh komponen bangsa pun lekas bersatu padu memakai batik dan mengklaimnya hanya karena Malaysia memakainya di sebuah forum internasional resmi dan berkata “This is a genuine batik from our country,” padahal, seperti berbagai bangsa di Afrika, mereka juga memiliki batik yang khas mereka.

“Kita tu butuh Malaysia, tanpa mereka mana ada kita bersatu, ada juga kita maki-maki diri kita sendiri terus,” ujar Iwan Widjaya sambil nongkrong di sebuah warung pulsa XL. Dengan tegas ia menyebutkan siapa orang Indonesia yang peduli pada budaya berbagai etnis yang banyak ini kecuali saat tiba-tiba Malaysia mendadak muncul menggunakannya.

Sejarah yang diciptakan di negeri kita telah membuat kita banyak membenci. Kita membenci Belanda si pencipta sistem pendidikan, hukum serta banyak infrastruktur yang kemudian dirusak oleh kita sendiri itu dengan alasan mereka telah menjajah dan menyerap sumber alam kita selama 360 tahun. Kita mengusiri para kulit putih serta mengambil alih berpuluh perusahaan asing ke tangan negara dengan alasan nasionalisasi.

“Tanah air saya adalah Nusantara ini, karena saya lahir dan besar disini, tapi mereka mengusir saya hanya karena saya berkulit putih,” catat Hans Pfister saat ia kehilangan kewarga negaraan Indonesianya dan dipaksa pergi dari Indonesia di tahun 1955 di buku ‘The Day When We Completely Lost Our Soul’ yang saya temukan di Leiden, juga berbagai catatan kepahitan keturunan Eropa di Indonesia saat itu yang sama sekali tidak pernah bisa kita temukan di buku-buku sejarah kita.

Kita membenci Malaysia dan menganggap mereka sebagai penindas, kita bahkan seperti telah menyiapkan neraka bagi mereka di Stadion Gelora Bung Karno 1 Desember nanti seolah merekalah satu-satunya lawan yang tak boleh menang dari kita.

Segala koneksi social media pada saya hanya mempertanyakan “Nanti nonton gak di 1 Desember?” seolah setelah itu kita langsung lolos ke semifinal. Padahal disana masih ada Thailand yang selalu menakutkan dan Laos yang juga mampu menjungkalkan kita.

Ketika kita membenci Malaysia dan menganggap mereka sebagai pengancam segala warisan budaya, artis-artis kita justru semakin kaya di sana, sinetron kita ditontoni sepanjang hari oleh semua kalangan dan “Bahasa Indonesia cool sangat!” bagi mereka.

Di Bristol, 5 tahun setelah pelancongan saya dan Ollie di Greenwich, Hariandi Maulid seorang kawan yang selalu memakai syal Viking Persib di lehernya mengajak saya menginap di rumah 3 orang Malaysia kawan baiknya. Mereka terus berusaha berbahasa kami, bahasa Indonesia sementara sebagai keturunan Minang yang paham bahasa Melayu, saya terus berusaha menggunakan bahasa mereka dengan benar.

Kami bermain PES 2011, permainan yang juga populer di negara kita, dimiliki dengan cara yang sama seperti di negara kita…dibajak. Makan rendang buatan saya dan nasi lemak buatan mereka dan tentu saja menonton film buatan saya Romeo Juliet. Mereka tertawa saat saya berkisah bahwa film ini tidak lolos sensor di negeri mereka dengan alasan penuh kekerasan. Sebaliknya saya dan Maulid tertawa saat mereka bercerita di negeri mereka demonstrasi sama sekali dilarang.

“Bila pak Yusuf nak balik?” Tanya mereka “Saya akan pulang 28 November, tiba di Jakarta 29 November dan Indonesia vs Malaysia 1 Desember di Jakarta!” jawab saya dengan penekanan pada rangkaian kata-kata terakhir. Mereka tertawa dan berkata “Pasukan bola sepak kami teruk sangat pak, tak akan menang melawan Indonesia.”

Lalu kembalilah kami bermain PES 2011, karena hanya disitulah 2 dari 3 Malaysia ini mampu menaklukkan 2 orang Indonesia di “lapangan Sepakbola”

Ditulis oleh Andibachtiar Yusuf, seorang Filmaker & Football Reverend. Find @andibachtiar on twitter.

Komentar:

Radione sik loading ker...

Subscribe to Ongisnade

Recommend this on Google

Arematainment

DC United Kagum Aremania

Kiprah Aremania tampaknya akan semakin terkenal di penjuru dunia. Kalau sebelumnya tim asal Jerman, Eintracht Frankfurt memuji, kali ini DC
Baca selengkapnya

Ongisnadestore.com
Ongisnade.co.id




kritik dan saran