Up Close & Personal: Dendi Santoso

27 February 2010 | 11:32 am | dibaca 68,829 kali kali

Dukungan keluarga dan rekan setim membuat Dendi Santoso optimis meniti karir sebagai striker muda harapan Arema dan Indonesia.

Kelas! Bukan hanya Arema, Timnas pun berharap pada Dendi Santoso.

Kelas! Bukan hanya Arema, Timnas pun berharap pada Dendi Santoso.

Karir Dendi Santoso sebagai pemain sepak bola profesional masih belum genap menyelesaikan satu musim kompetisi setelah dipromosikan dari tim Arema U-21 tahun lalu ketika Arema dilatih oleh Gusnul Yakin. Namun pemain asli Malang itu kini menjadi salah satu punggawa Singo Edan bertahan di puncak klasemen Liga Super.

Baca juga:
Up Close & Personal volume 1: Hermawan

Setengah kompetisi di musim perdana Liga Super Indonesia, Dendi Santoso berkesempatan tampil bersama striker senior seperti Patricio “Pato” Morales, Fortune Udo, dan Ranu Tri Sasongko. Meski musim itu Arema tertahan di papan tengah, prestasi individual dicatat Dendi dengan masuk ke timnas U-23 proyeksi SEA Games 2009.


Young Guns: Dendi Santoso (kanan) saat menghadapi bek Persik Kediri, Gunawan Dwi Cahyo pada Derby Jatim di Kanjuruhan. (foto: Ongisnade/Adi Kusumajaya)

Musim ini, sekembalinya dari timnas U-23, Dendi langsung menjadi bagian penting dari skuad Arema Indonesia bersama Noh Alam Shah dan Rahmat Affandi di lini depan. Setelah gol pertamanya di tim senior pun telah dicetaknya musim ini saat melawan Persiba Balikpapan.

Bagaimana perjalanan karir Dendi Santoso mulai dari SSB Arema hingga memakai kaos biru kebanggaan Singo Edan dan kostum merah putih dengan logo Garuda? Berikut penuturan pemain bernomor punggung 41 itu kepada Zulfikar Aleksandri dari ONGISNADE.


Kompak: Dendi bersama Ridhuan, Roman Chmelo, Waluyo, dan pemain-pemain Arema lainnya saat di Makassar. (foto: Beny Wahyudi)

Dendi Santoso mengawali karir sepak bola sejak kecil, yakni ketika masih duduk di kelas 4 SD dengan bergabung di SSB Unibraw dengan lapangan tempat latihan di dekat kampus Universitas Brawijaya.

“Saya mulai main junior kelas 4, waktu itu saya ikut SSB Unibraw, kemudian masuk Akademi Arema saat kelas 2 SMP, waktu itu saya sekolah di SMP Negeri 13. Kemudian melanjutkan sekolah di SMK Muhammadiyah 1,” ujar pemain yang tinggal di kawasan Jalan Candi itu.

Kenangan paling manis Dendi saat masih bersama tim junior adalah ketika turut membawa Arema Licek menjuarai Piala Suratin tiga tahun lalu. Sebuah prestasi terbaik yang ditorehkan Akademi Arema hingga saat ini.

“Tahun 2006 saya ikut membawa Arema Junior menjuarai Piala Suratin. Banyak pemain-pemain Arema yang saat itu tampil sekarang ikut tim senior, seperti Johan Farizi, Fariz Bagus, Firmansyah “Feri” Aprilianto, Sunarto, dan Aji Saka. Selain itu ada juga beberapa pemain yang sekarang di tim U-21, seperti Dicho dan M. Rofiq,”


Asli Arema: Dendi bersama Beny Wahyudi dan Bustomi. (foto: Ongisnade/Adi Setiawan)

Musim ini, sejumlah pemain Arema U-21 dipromosikan ke tim senior, seperti Firmansyah Aprilianto, Fariz Bagus, dan Johan Farizi. Namun Dendi tidak melupakan mantan rekan setimnya yang lain di tim Arema U-21. Menurutnya, pemain-pemain seperti Dicho Chorniawan dan Muhamad Rofiq yang musim lalu sempat magang di tim senior juga layak bermain di tim senior musim ini.

“Menurut saya, teman-teman di U-21 sudah pantas masuk tim senior karena memiliki kualitas yang tak kalah dengan pemain lain, seperti Dicho dan Rofiq. Rofiq bahkan juga sempat ikut Timnas U-23. Mungkin nasib mereka belum bagus dan beda dengan pemain lain saja,”

“Saat masuk tim senior tahun lalu, saya ikut seleksi dengan Ribut Wahyudi, Kevin Tata, Sunarto. Saat itu pelatihnya Gusnul Yakin. Saya sangat berterima kasih kepada Mas Joko (Joko Susilo, asisten pelatih Arema) yang memberi saya kesempatan dan kepercayaan ke tim senior,”

Selain dukungan penuh dari orang tua, Dendi juga mendapat support dari sesama pemain Arema, terutama yang lebih senior, seperti Arif Suyono (kini di Sriwijaya FC) dan Roni Firmansyah.

“Dukungan orang tua dan keluarga sangat penting. Mereka sangat mendukung saya. Di tim Arema sendiri saya selalu mendapat dukungan dari pemain-pemain yang lebih senior, terutama saat itu adalah Arif Suyono dan Roni Firmansyah,”


Karir Dendi mendapat dukungan penuh dari keluarga dan sesama pemain Arema, baik di tim U-21 maupun senior. (foto: Ongisnade/Zul)

Sementara itu di level internasional, karir Dendi terbilang cepat karena meski belum pernah bergabung dengan timnas kelompok umur, Dendi langsung dipanggil ke timnas U-23 yang ketika itu diproyeksikan untuk SEA Games tahun 2009 di Laos.

“Debut saya dengan kostum merah putih adalah di Timnas U-23. Saya tidak pernah ikut timnas kelompok umur atau junior. Timnas U-23 adalah pertama kali saya dipanggil ke Jakarta. Prestasi timnas di Laos memang tidak sesuai target, mungkin kami kurang hoki karena mampu mengimbangi lawan dan terus menyerang namun gagal lolos dari penyisihan grup,”

Setelah tugas negara bersama timnas U-23 selesai, Dendi langsung kembali ke Malang dan bergabung dengan Arema. Ketika gabung, Dendi menemui “tim baru” karena pelatih baru Robert Alberts dan rekan-rekan baru setim yang tidak ia temui sejak meninggalkan Arema di masa pra musim. Meski demikian, sebagai pemain profesional, proses adaptasi bukan menjadi halangan bagi Dendi untuk bersinar bersama Singo Edan musim ini.


Dendi Santoso saat latihan bersama Arema ketika pra musim Liga Super 2009/10 di Lapangan Lanud Abd Saleh Malang. (foto: Ongisnade/Zul)

“Awal gabung Arema musim ini, saya harus bekerja keras untuk beradaptasi dengan tim yang relatif baru, dengan pemain-pemain muda yang baru gabung musim ini, juga pelatih baru. Pelatih di Arema dan timnas beda karakter, kalau di timnas pemain boleh lama menggiring bola, tetapi di sini pelatih minta kita main kolektivitas tim dan satu dua sentuhan,”

“Meski baru gabung ketika musim kompetisi sudah mulai, tapi suasana tim sangat bagus. Pemain sangat memberi support,”

Gol pertama Dendi untuk Arema adalah saat menghadapi Persiba Balikpapan jelang akhir putaran pertama lalu, namun sayang golnya tak mampu menyelamatkan Arema dari kekalahan pertama di kandang sendiri musim ini dengan skor 1-2.

“Senang rasanya bisa mencetak gol untuk Arema di hadapan Aremania. Tapi saya juga kecewa karena gol itu gagal memberi kemenangan untuk Arema. Semoga saja saya bisa mencetak gol-gol lagi di pertandingan berikutnya,”

Menurut Dendi, kunci sukses Arema musim ini dari yang awalnya merupakan tim yang tak diunggulkan bisa menjadi juara paruh musim adalah rasa kekeluargaan dan kekompakan dalam tim.

“Kekeluargaan antar pemain menjadi kunci Arema menjadi tim yang kuat dan solid musim ini. Hasilnya sudah terbukti pemain mampu menunjukkan permainan terbaik dan di puncak klasemen namun kompetisi masih panjang,”


Sakti: Dendi mengidolai Saktiawan Sinaga dan Francesco Totti. (foto: Ongisnade/Zul)

“Debut saya musim ini adalah lawan Persebaya saat main di Surabaya. Sempat grogi juga karena teror suporter dan tingginya gengsi pertandingan antar kedua tim. Tapi saya sangat berterima kasih kepada pelatih telah diberi kesempatan bermain dan yakin saya bisa menjawab kepercayaan itu,”

Sebagai pemain muda, tentu memiliki pemain favorit yang menjadi panutan, inspirasi gaya main, dan idola. Siapa striker favorit Dendi? Bila Anda menjawab Saktiawan Sinaga dan Francesco Totti, maka jawaban Anda benar karena dua pemain itu merupakan sosok pemain favorit Dendi.

“Saktiawan Sinaga. Saya suka permainannya di timnas dan klub. Kalau untuk pemain luar negeri saya suka Francesco Totti,” sebut Dendi seraya mengatakan dirinya senang bermain sebagai striker penjelajah dibandingkan menjadi seorang target man.

“Ketika masih junior, saya bermain sebagai striker, tapi saat di akademi saya sempat diposisikan sebagai gelandang serang,”


Selain hobi Facebook, Dendi juga selalu mengakses Ongisnade.net (foto: Ongisnade/Zul)

Apa pengalaman paling berharga dan tak terlupakan yang didapat Dendi bersama Arema hingga saat ini? Tak lain adalah momen ketika Arema Junior meraih gelar nasional Piala Suratin tahun 2006, dimana saat itu Dendi dkk masih dilatih oleh almarhum Setyo Budiarto.

Tangan dingin, keuletan, kesabaran, dan motivasi tinggi dari almarhum Setyo membuat Dendi dkk terlecut untuk menjadi juara meski sehari sebelumnya dimarahi karena melakukan perbuatan indisipliner dengan keluar jalan-jalan sehari sebelum final Piala Suratin.

“Pengalaman paling mengesankan saya adalah di final Piala Suratin 2006, saat itu semua pemain sempat dimarahi oleh pelatih (Alm. Setyo Budiarto) karena keluar malam sehari sebelum pertandingan final. Kami justru semakin termotivasi dan akhirnya bisa meraih juara,”


Den-41: Dendi ingin membawa Arema menjadi yang terbaik musim ini. (foto: Ongisnade/Adi Setiawan)

Kini setelah menjadi bagian penting dari tim Arema, Dendi berharap bisa membawa Singo Edan menjadi yang terbaik di Liga Super Indonesia 2009/10. Tentunya dengan dukungan penuh dari manajemen, rekan setim, pelatih, dan juga Aremania.

“Saya berharap Aremania terus memberi dukungan penuh ke tim, bisa tetap tertib supaya Arema tidak kena sanksi lagi. Dukungan Aremania sangat luar biasa seperti pada pertandingan lawan Persik Kediri dan Persebaya Surabaya, apalagi saat ini Aremania sudah bebas dari sanksi,” pungkas Dendi.

Sukses terus untuk karirmu Den, semoga mampu membawa Arema ke puncak prestasi musim ini!

Komentar:

Radione sik loading ker...

Subscribe to Ongisnade

Recommend this on Google

Arematainment

DC United Kagum Aremania

Kiprah Aremania tampaknya akan semakin terkenal di penjuru dunia. Kalau sebelumnya tim asal Jerman, Eintracht Frankfurt memuji, kali ini DC
Baca selengkapnya

Ongisnadestore.com
Ongisnade.co.id




kritik dan saran